PASANGKAYU, Manakarra Pos – Pengembangan kreativitas santri terlihat jelas di Pondok Pesantren DDI Sarudu.
Dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, santri MTs dan Aliyah menampilkan drama religi “Kisah Wafatnya Hamzah” yang berhasil menyentuh emosi para hadirin, Sabtu (24/1/2026).
Peringatan Isra Mi’raj digelar di Pondok Putra DDI Sarudu Tanamoni, Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu ini tidak hanya berfokus pada dakwah dan penguatan nilai keagamaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi seni dan pembinaan karakter santri melalui pendekatan pendidikan modern.
Beragam potensi santri ditampilkan, mulai dari seni peran, puisi, hingga bela diri.
Penampilan drama “Kisah Wafatnya Hamzah” menjadi salah satu yang paling menyita perhatian karena sarat pesan keteladanan, keberanian, dan pengorbanan para sahabat Nabi dalam perjuangan Islam.
Penampilan tersebut disaksikan pejabat pemerintah daerah, anggota DPRD Pasangkayu, unsur kecamatan, kepala KUA Sarudu dan Baras, tokoh agama, serta orang tua santri.
Panitia menghadirkan Dr Nursalim Ismail, M.Si, Wakil Pimpinan PP Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene sekaligus Ketua Komisi Dakwah MUI Sulawesi Barat, sebagai muballigh.
Ketua Panitia, H. Mahmud Abd. Latif, S.Pd.I, didampingi Sekretaris Panitia Darmansyah, S.Pd.I, menyampaikan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak dimaknai sebatas kegiatan seremonial, melainkan sebagai sarana pembinaan spiritual dan karakter santri.
“Peringatan Isra Mi’raj dilaksanakan setiap tahun. Namun pelaksanaan secara lebih meriah biasanya digelar sekali dalam tiga tahun,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain penguatan dakwah, pihak pesantren juga terus mengembangkan kreativitas santri di berbagai bidang dengan mengadopsi metode pendidikan yang relevan.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan DDI Sarudu l serta melibatkan pendidik, tokoh agama, dan masyarakat sekitar.
Peringatan Isra Mi’raj tahun ini mengusung tema “Dengan Ukhuwah Addariyah Melangkah Dekat kepada Allah SWT, Lewat Hikmah Isra dan Mi’raj Rasulullah Muhammad SAW.”
Salah satu pembina DDI, Darmansyah, S.Pd.I, menambahkan bahwa pengembangan sarana dan prasarana pesantren dilakukan melalui kerja sama pengurus dan masyarakat.
Salah satunya melalui penggalangan dana dengan sistem celengan selama setahun terakhir.
“Dari upaya tersebut, salah satu hasilnya adalah terbangunnya lapangan bulu tangkis untuk menunjang aktivitas santri,” pungkasnya. (egi)







