DARI Masjid Meneguhkan Komitmen Tata Kelola Pemerintahan Bersih dan Berpihak pada Rakyat. Dalam tradisi kepemimpinan Sulawesi Tengah, pemimpin tidak sekadar hadir sebagai pengambil kebijakan, tetapi sebagai panjaliku ntodea—pelindung rakyat yang hidup, berjalan, dan berjuang bersama masyarakatnya.
Sosok Dr. H. Anwar Hafid dimaknai banyak kalangan sebagai Rilivuto Sulteng, pemimpin yang meneguhkan nilai amanah dan pengabdian, berakar kuat pada spiritualitas dan kearifan lokal Kaili.
Komitmen kepemimpinan itu berangkat dari ruang paling sakral dalam kehidupan umat: masjid. Dari masjid, nilai kejujuran, integritas, dan keberpihakan kepada kaum lemah dirawat dan diteguhkan. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pembentukan etika kepemimpinan—tempat pemimpin mengikat janji moral di hadapan Tuhan dan rakyatnya.
Di sanalah komitmen tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berkeadilan dimulai. Dalam konteks budaya Kaili, hubungan antara pemerintah dan rakyat bukanlah hubungan yang terpisah atau berjarak. Hubungan itu diikat kuat oleh ungkapan bijak leluhur Tokaili: “Pamarentah dan Todea, laksana mata putih dan hitam, tidak pisah dipisahkan.
“Ane todea riuve, riuve muni pamarentah. Ane ribuntina pamarentah, ribuntina muni todea.”
Artinya: Pemerintah dan rakyat bagaikan putih dan hitam pada bola mata—tak dapat dipisahkan. Jika rakyat berada di air, pemerintah pun berada di air. Jika pemerintah berada di darat, rakyat pun berada di darat.
Ungkapan ini bukan sekadar peribahasa, melainkan filosofi kepemimpinan yang menuntut kehadiran nyata pemimpin dalam setiap situasi rakyatnya. Seorang pemimpin tidak boleh hanya muncul saat seremonial, tetapi harus hadir ketika rakyat susah, tertindas, dan membutuhkan perlindungan. Inilah esensi kepemimpinan yang amanah menurut kearifan lokal Kaili.
Dr. H. Anwar Hafid memaknai filosofi ini sebagai landasan dalam membangun tata kelola pemerintahan modern yang tetap berakar pada nilai budaya dan religius. Pemerintahan yang bersih tidak hanya diukur dari sistem dan regulasi, tetapi dari keberanian moral pemimpinnya untuk berpihak kepada kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Sebagaimana bola mata yang hitam dan putih saling melengkapi untuk memberi penglihatan yang jernih, demikian pula rakyat dan pemimpin harus menyatu agar arah pembangunan Sulawesi Tengah tetap lurus dan berkeadilan. Tanpa salah satunya, keseimbangan akan hilang.
Dari masjid hingga ruang-ruang kebijakan, dari nilai agama hingga kearifan lokal Kaili, kepemimpinan Panjaliku Ntodea Rilivuto Sulteng menjadi simbol harapan: bahwa pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan berpihak pada rakyat bukanlah utopia, melainkan amanah yang harus terus dijaga—dulu, kini, dan untuk generasi Sulawesi Tengah yang akan datang.
Maroso Agama, Maroso Ada, Maroso Pamarentah, Naama Ngata, Nadeabelona (Pemerintah, Agama dan Adat Kuat, Negeri, Aman Kebaikan Melimpah). (*)







