DALAM kehidupan masyarakat Kaili, kearifan lokal sering kali hadir dalam bentuk petuah yang sederhana namun sarat makna. Salah satunya adalah ungkapan:
“Ane masana Katuvu ledo aga maturu, Ala pomanggi hau ripampa tuda kaluku, Ala mamala haselena raapunai ana ntemakumpu, Manyama Katuvu sampe ntemakumpu.”
Artinya: “Kalau mau hidup senang, jangan hanya dibawa tidur. Bekerjalah, ambil pacul, garap lahan, tanam kelapa. Agar hasilnya dapat dinikmati anak dan cucu, sehingga hidup sejahtera sampai anak cucu.”
1. Pesan Kerja Keras, Lawan Kemalasan
Petuah ini menekankan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan tidak datang dengan bermalas-malasan. “Jangan hanya dibawa tidur” adalah teguran halus leluhur agar manusia tidak menyerahkan hidup pada nasib, melainkan aktif bekerja, berusaha, dan berkarya. Dalam budaya Kaili, kerja keras adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan.
2. Bekerja dengan Tangan Sendiri, Tanpa Menggantungkan
Kalimat “Ala pomanggi hau ripampa tuda kaluku” mengajarkan makna kemandirian. Masyarakat Kaili sejak dahulu terbiasa hidup dengan bercocok tanam, memanfaatkan alam secara arif, tanpa merusaknya. Pacul dan pohon kelapa menjadi simbol kesungguhan kerja—bahwa untuk mencapai hasil, seseorang harus menanam, merawat, dan menunggu dengan sabar.
3. Hasil yang Dinikmati Berlanjut ke Generasi
Petuah ini tidak hanya berbicara tentang hasil kerja untuk diri sendiri, melainkan tentang keberlanjutan hidup. “Ala mamala haselena raapunai ana ntemakumpu” memberi pesan bahwa jerih payah hari ini adalah warisan untuk anak dan cucu. Kehidupan yang sejahtera bukan sekadar milik satu generasi, tetapi juga investasi moral dan ekonomi untuk masa depan keturunan.
4. Filosofi Kehidupan Sejahtera yang Holistik
Akhir dari petuah ini, “Manyama Katuvu sampe ntemakumpu”, adalah doa dan harapan. Sejahtera bukan hanya berarti cukup harta, tetapi juga damai hati, rukun dalam keluarga, dan lestari dalam nilai. Inilah cita-cita hidup masyarakat Kaili: kesejahteraan yang menyambung, tidak putus pada satu generasi, tetapi mengalir sampai cucu-cicitnya.
5. Relevansi di Masa Kini
Petuah leluhur ini tetap relevan dalam dunia modern. Di tengah arus kemajuan teknologi dan gaya hidup serba instan, masyarakat diajak untuk tidak melupakan nilai kerja keras, kemandirian, dan kesabaran. Bekerja hari ini adalah menanam kelapa untuk masa depan—buahnya tidak hanya kita nikmati, tetapi juga mereka yang akan datang setelah kita.
Penutup
Petuah leluhur masyarakat Kaili ini bukan hanya nasihat, melainkan filosofi hidup. Ia mengingatkan kita bahwa kesejahteraan bukan hasil dari tidur panjang atau jalan pintas, melainkan buah dari usaha, kerja keras, doa, dan kesabaran. Dan yang paling indah, kesejahteraan itu bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk diwariskan hingga anak cucu.
“Ane masana Katuvu ledo aga maturu” — jangan biarkan hidup hanya berlalu dalam tidur. Bangkit, bekerja, dan wariskan sejahtera.(*)