Di tengah dinamika kehidupan kampus semakin kompleks, ruang belajar eksternal, forum diskusi, aktivitas riset, serta ruang-ruang intelektual lainnya kini tampak mulai meredup.
Ruang yang dahulu menjadi wadah tumbuhnya gagasan, perdebatan kritis, dan pengasahan kepekaan sosial kini perlahan kehilangan denyutnya.
Situasi ini semakin diperparah oleh kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang, alih-alih dimanfaatkan sebagai alat bantu intelektual, justru kerap diperlakukan sebagai jalan pintas instan proses berpikir.
Mahasiswa seharusnya menjadi aktor utama dalam proses pencarian jati diri intelektual justru terjebak dalam rutinitas akademik yang kian pragmatis dan berorientasi pada hasil semata.
AI, dalam praktiknya, sering kali mereduksi proses belajar menjadi sekadar produksi jawaban cepat, menggantikan proses membaca, merenung, berdiskusi, dan berdebat yang seharusnya menjadi inti pembentukan intelektual.
Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, daya analisis, dan keberanian mempertanyakan realitas sosial perlahan tergerus.
Ruang-ruang belajar diluar kelas yang dulu hidup karena inisiatif kolektif kini semakin sepi, sebab mahasiswa lebih nyaman bergantung pada teknologi daripada membangun kesadaran belajar bersama.
Diskusi digantikan oleh ringkasan instan, riset dikerdilkan menjadi kompilasi informasi, dan dialektika intelektual kalah oleh informasi praktis.
Ruang-ruang tersebut hari ini hanya menunggu suntikan semangat dari luar, tidak lagi tumbuh dari kesadaran mahasiswa itu sendiri. Kampuspun akan berisiko melahirkan lulusan yang kompeten secara teknis, namun rapuh secara intelektual.
Mahasiswa menjadi kaku ketika menjawab dan tidak terbiasa bertanya, mahir menyusun tugas, tetapi tidak mampu persentasi, cepat beradaptasi secara teknologi, namun tumpul dalam membaca problem sosial.
AI yang seharusnya memperkaya wawasan berpikir justru berpotensi mempersempitnya ketika digunakan tanpa kesadaran kritis. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar, sebagai pemantik diskusi dan penutup perdebatan.
Di tengah gempuran kecerdasan buatan seharusnya kesadaran kritis, kepekaan sosial, dan keberanian berpikir mandiri harus semakin dipertajam, agar mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual mampu memformulasikan gagasan untuk menjawab perkembangan zaman. (*/)

