Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.
Namun hingga kini, pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi.
Persoalan tersebut tidak hanya bersumber dari satu aspek, melainkan saling berkaitan antara regulasi, kebijakan pemerintah, realitas di lapangan, hingga peran orang tua dan masyarakat.
Salah satu tantangan utama adalah regulasi pendidikan yang belum sepenuhnya mendukung peningkatan mutu.
Tidak sedikit kebijakan yang lahir tanpa mempertimbangkan kondisi riil sekolah dan tenaga pendidik di lapangan. Akibatnya, regulasi tersebut justru sulit diterapkan secara efektif dan tidak berdampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran.
Dalam banyak kasus, aturan yang terlalu kaku juga membatasi ruang inovasi guru dan sekolah dalam mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Selain regulasi, kebijakan pemerintah yang tidak sinkron dengan kebutuhan masyarakat turut memperumit persoalan pendidikan. Contohnya, kebijakan penghapusan tenaga honorer yang diterapkan secara umum berpotensi menimbulkan masalah serius di daerah-daerah yang masih kekurangan guru.
Alih-alih meningkatkan kualitas pendidikan, kebijakan seperti ini justru dapat memperlemah layanan pendidikan, terutama di wilayah terpencil dan tertinggal. Ketidaksinkronan kebijakan ini juga berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah dalam memajukan pendidikan.
Tantangan berikutnya adalah realitas lapangan yang belum mendukung secara optimal. Masih banyak sekolah yang kekurangan fasilitas dasar, sarana pembelajaran, serta tenaga pendidik yang memadai. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada kualitas proses belajar mengajar. Lebih jauh, keterbatasan tersebut juga memengaruhi motivasi belajar siswa, karena pendidikan sulit dipandang sebagai sarana perubahan jika lingkungan belajar tidak mendukung.
Di luar peran pemerintah dan sekolah, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak juga masih belum optimal.
Sebagian orang tua belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama, khususnya dalam memantau dan mendampingi proses belajar anak di rumah. Padahal, orang tua memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai pendidik pertama dan motivator utama bagi anak. Tanpa dukungan keluarga, upaya peningkatan kualitas pendidikan akan sulit mencapai hasil maksimal.
Pada akhirnya, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat harus bergerak searah dan saling mendukung.
Pendidikan tidak bisa diserahkan hanya kepada sekolah atau pemerintah semata. Diperlukan kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama demi melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di masa depan.
Jika tantangan-tantangan tersebut dapat dihadapi dengan kebijakan yang berpihak pada realitas, regulasi yang adaptif, serta dukungan semua elemen masyarakat, maka pendidikan Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang lebih baik dan berkeadilan.
Karya Tulis :
Mila Sarmila, Program Studi Bahasa Indonesia, STIKIP Tomakaka Stikrama Pasangkayu.



