Pendahuluan
Ungkapan-ungkapan lokal dalam masyarakat Kaili menyimpan nilai moral yang dalam dan menjadi penuntun hidup bagi generasi ke generasi. Salah satu ungkapan sarat makna tersebut adalah “Aginamo pale matontoru haselena nagali belo”, yang berarti lebih baik tangan kotor karena kerja halal, dibandingkan dengan “pale nagali haselena natontorutagara”, yakni tangan yang terlihat bersih tetapi berasal dari cara yang kotor atau tidak baik.
Ungkapan ini tidak sekadar nasihat, tetapi cerminan etos kerja, integritas, dan kehormatan masyarakat Kaili dalam memaknai rezeki dan kehidupan.
Makna Filosofis Ungkapan
1. Etos kerja dan kejujuran
Dalam budaya Kaili, bekerja dengan usaha sendiri adalah bentuk kehormatan diri. “Tangan kotor” menggambarkan kerja keras—bercocok tanam, berkebun, memancing, berdagang, melayani, atau aktivitas lain yang melibatkan keringat dan tenaga. Hal ini dipandang sebagai jalan rezeki yang suci dan penuh berkah.
2. Menolak praktik yang tidak jujur
“Tangan bersih dari hasil kotor” melambangkan seseorang yang hidup dari cara-cara tidak jujur: menipu, korupsi, memanfaatkan jabatan, mengambil hak orang lain, atau keuntungan yang tidak halal. ( Lenahalala).Dalam nilai Kaili, hal seperti ini Nepakaeya ( Malu) membuat dan Netunai Nompakaeya kita (aib) bagi diri dan keluarga.
3. Rezeki halal membawa keselamatan
Rezeki yang diperoleh dari cara benar diyakini membawa ketenangan dan keberkahan. Sebaliknya, harta dari jalan kotor akan menghadirkan ketidaktenangan, merasa diawasi, serta menimbulkan dampak sosial dan moral yang merusak.
4. Pendidikan karakter melalui ungkapan lokal
Ungkapan ini menjadi pedoman bagi orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Sejak kecil, anak diajarkan untuk rajin bekerja, tidak bergantung pada orang lain, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Konteks Sosial Budaya
Dalam kehidupan masyarakat Kaili, terutama di wilayah pedesaan, nilai kejujuran dan kerja keras sangat dijunjung tinggi. Petani, nelayan, dan perajin tradisional sering menyampaikan ungkapan ini sebagai bentuk pengingat bahwa martabat manusia tidak diukur dari seberapa bersih penampilannya, tetapi dari seberapa bersih cara ia memperoleh rezeki.
Ungkapan ini juga tercermin dalam beberapa tradisi, seperti:
Nolunu, Nosialapale semangat saling membantu di ladang tanpa pamrih;
Nolibu Nolunu Netambani Potangara Nuada, gotong royong dalam kegiatan ada
Relevansi dalam Kehidupan Masa Kini
Di era modern, tantangan etika semakin tinggi: korupsi, manipulasi data, praktik curang dalam bisnis, hingga budaya instan. Ungkapan “Aginamo pale matontoru…” menjadi lebih relevan sebagai pengingat bahwa:
Integritas lebih utama daripada tampak sukses tetapi dengan cara tidak benar.
Rezeki halal tidak hanya memberi ketenangan pribadi, tetapi juga menjaga tatanan sosial.
Karakter jujur dan pekerja keras adalah warisan budaya Kaili yang harus terus. ditanamkan, terutama kepada generasi muda.
Ungkapan ini dapat menjadi dasar dalam pendidikan etika, pembangunan karakter, hingga tata kelola pemerintahan dan bisnis yang transparan.
Kesimpulan
Ungkapan “Aginamo pale matontoru haselena nagalibelo” adalah pernyataan kuat bahwa kehormatan hidup berasal dari kerja keras dan kejujuran. Sebaliknya, “pale nagali haselena natontorutagara” menjadi peringatan bahwa apa pun yang diperoleh dari cara tidak benar, meski tampak bersih dan rapi, tetap membawa ketidakberkahan.
Nilai luhur ini adalah bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Kaili—warisan moral yang relevan dari masa lalu, menjadi petunjuk hari ini, dan tetap akan menjadi kompas etika bagi generasi mendatang.(*)












