MASYARAKAT Kaili sejak dahulu mewariskan banyak ungkapan bijak yang berfungsi sebagai cermin moral dan pengingat etika sosial.
Ungkapan-ungkapan ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman panjang hidup bermasyarakat yang menjunjung tinggi adab, keadilan, dan kesetaraan manusia.
Salah satunya adalah ungkapan berikut:
“Ane adab belo aga nidekeika topodoi ante topopangka, tapi nalipo ntetopakasi ntepegawai biasa, itumoitu niulika nepuse, nangalarara.”
Yang bermakna: Bila adab dan kebaikan hanya diberikan kepada orang berharta dan pejabat, tetapi hilang terhadap orang miskin dan aparat biasa, maka itulah yang disebut penjilat.
Adab sebagai Ukuran Martabat Manusia
Dalam pandangan hidup masyarakat Kaili, adab (belo) adalah fondasi utama hubungan sosial. Adab tidak boleh bersyarat, apalagi ditentukan oleh status sosial, jabatan, atau kekayaan. Setiap manusia—baik pejabat maupun rakyat kecil—memiliki martabat yang sama dan berhak mendapatkan perlakuan hormat.
Ungkapan ini menegaskan bahwa adab sejati bukanlah sesuatu yang dipertontonkan di hadapan kekuasaan, tetapi diuji dalam sikap kita kepada mereka yang lemah, sederhana, dan tidak memiliki kuasa.
Kritik Sosial terhadap Perilaku Menjilat
Kata “niulika nepuse, nangalarara” adalah kritik keras namun bermartabat. Dalam budaya Kaili, menjilat bukan sekadar perilaku tidak etis, tetapi juga tanda rusaknya nilai kejujuran dan keberanian moral.
Seseorang yang hanya ramah kepada pejabat, namun abai terhadap rakyat kecil, dipandang kehilangan jati diri sebagai manusia beradab.
Ungkapan ini secara halus namun tegas mengingatkan bahwa: Kesopanan yang berpihak pada kekuasaan semata adalah kepalsuan. Hormat yang berubah-ubah sesuai jabatan adalah kemunafikan sosial. Adab yang diskriminatif mencederai nilai kepudulian kebersamaan (Nosipeili, Nosimpoasi)
Relevansi dalam Kehidupan Kontemporer
Di era modern, pesan ungkapan ini semakin relevan. Dalam ruang birokrasi, pelayanan publik, bahkan kehidupan sehari-hari, masih sering dijumpai perlakuan berbeda berdasarkan jabatan, seragam, atau kekayaan. Masyarakat Kaili melalui ungkapan ini mengajarkan bahwa keadilan sosial dimulai dari adab yang konsisten.
Ungkapan ini juga menjadi pengingat bagi para pemimpin dan pelayan masyarakat bahwa jabatan bukan alasan untuk diagungkan, dan rakyat kecil bukan objek untuk diabaikan.
Penutup
Ungkapan bijak masyarakat Kaili bukan sekadar warisan kata-kata, tetapi pedoman etika hidup. “Ane adab belo aga nidekeika topodoi ante topopangka…” mengajarkan bahwa adab sejati lahir dari keikhlasan, bukan kepentingan.
Siapa pun yang mempraktikkan adab tanpa membeda-bedakan status, dialah manusia yang sesungguhnya bermartabat dalam pandangan adat dan kemanusiaan.(*)












