“Ane Maria Panggita Numata, Dekeika Sudakah Kasarara”: Falsafah Ketulusan dalam Tradisi Masyarakat Kaili

Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si / Maestro Budaya Sulawesi Tengah.

MASYARAKAT Kaili di Sulawesi Tengah mewariskan banyak ungkapan bijak yang menjadi pedoman hidup lintas generasi. Salah satu pesan leluhur yang sarat makna adalah:

Ane Maria Panggita Numata, Dekeika Sudakah Kasarara , Nemusarumaka Rabalasina, Itumoitu Nisangaka Mominurara.”

Yang berarti:

“Kalau ada rezeki berlebih, berikanlah sedekah kepada sesama keluarga, jangan mengharap balasannya. Itulah yang dinamakan ketulusan.”

Ungkapan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan fondasi etika sosial dalam kehidupan masyarakat Kaili yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, solidaritas, dan keikhlasan.

1. Rezeki sebagai Amanah, Bukan Sekadar Kepemilikan

Dalam pandangan hidup masyarakat Kaili, rezeki bukan hanya hasil kerja keras pribadi, melainkan amanah dari Tuhan yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Ketika seseorang memperoleh kelapangan rezeki, ia diingatkan untuk tidak larut dalam kepemilikan egoistik, melainkan membuka ruang berbagi.

Nilai ini sejalan dengan semangat kebersamaan yang hidup dalam filosofi Nosarara Nosabatutu—persaudaraan yang utuh lahir dan batin—yang telah lama menjadi perekat sosial masyarakat Kaili.

2. Sedekah sebagai Penguat Ikatan Keluarga

Frasa “Dekeika Sudakah Kasarara Ribulampuasa” (berikan sedekah kepada sesama keluarga) menegaskan bahwa keluarga adalah lingkaran pertama kepedulian. Dalam struktur sosial Kaili, keluarga bukan sekadar hubungan darah, tetapi jejaring tanggung jawab moral.

Memberi kepada keluarga yang membutuhkan bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan perwujudan tanggung jawab kolektif. Di sinilah solidaritas tradisional berfungsi sebagai jaring pengaman sosial sebelum hadirnya sistem formal negara.

3. Ketulusan Tanpa Pamrih

Bagian terpenting dari ungkapan ini adalah: “Nemusarumaka Rabalasina” —(jangan mengharapkan balasan). Inilah inti ajaran leluhur: memberi harus dilandasi keikhlasan, bukan transaksi tersembunyi.

Dalam perspektif etika, tindakan yang disertai harapan balasan akan menggeser makna sedekah menjadi investasi sosial. Sebaliknya, ketulusan (Mominurara) adalah tindakan memberi yang bersih dari kepentingan, tidak diumbar, dan tidak diperhitungkan sebagai utang moral.

Ketulusan mencerminkan kematangan batin dan keluhuran karakter. Ia melahirkan kepercayaan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan harmoni sosial.

4. Relevansi di Era Modern

Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik dan kompetitif, pesan leluhur ini terasa semakin relevan. Banyak hubungan sosial hari ini dibangun atas dasar keuntungan dan timbal balik. Ungkapan ini mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh logika materi.

Ketika masyarakat mempraktikkan Mominurara—ketulusan dalam memberi—maka akan lahir lingkungan sosial yang penuh empati, kepedulian, dan rasa aman. Nilai ini menjadi benteng moral dalam menghadapi krisis sosial dan kesenjangan ekonomi.

5. Menjaga Warisan Nilai Leluhur

Ungkapan ini bukan hanya warisan bahasa, melainkan warisan karakter. Ia perlu terus didokumentasikan, diajarkan kepada generasi muda, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana banyak pesan bijak masyarakat Kaili yang Bapak kembangkan dalam dokumentasi budaya, Nilai Mominurara dapat menjadi salah satu pilar penting dalam buku atau kajian tentang Filosofi Hidup Komunitas Masyarakat Kaili Berbasis Kearifan Lokal—karena di dalamnya terkandung ajaran tentang keadaban, solidaritas, dan kemanusiaan.

Penutup

Ane Maria Panggita Numata…” adalah pengingat bahwa kelebihan yang kita miliki bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dibagikan.

Memberi tanpa berharap balasan adalah cermin kemuliaan hati. Dan dalam ketulusan itulah, masyarakat Kaili menemukan makna sejati persaudaraan dan kehidupan bersama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *