Abstrak
Ungkapan-ungkapan tradisional masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah merupakan refleksi mendalam atas kearifan lokal yang diwariskan secara lisan lintas generasi. Salah satu ungkapan yang sarat makna adalah: “Ane Naria Tona Danabelo ntekomiu mau Nipakaduata rarana, Nemuangga Iya Nadoyo, Tapi Nelabihpa Angga nukarona Padentekomiu” yang secara bebas dapat dimaknai: “Jika orang yang kau sakiti masih berbuat baik kepadamu, jangan anggap ia bodoh, tetapi pahamilah bahwa tingkat moralitasnya lebih tinggi darimu.”
Artikel ini membahas dimensi moral, sosial, dan kultural dari ungkapan tersebut serta relevansinya dalam membangun peradaban yang beradab dan harmonis.
Pendahuluan
Masyarakat Kaili memiliki tradisi lisan yang kuat berupa peribahasa, ungkapan, dan petuah adat yang berfungsi sebagai pedoman hidup. Ungkapan ini tidak hanya mencerminkan nilai moral, tetapi juga menjadi instrumen pendidikan sosial. Dalam konteks hubungan antarindividu, nilai kearifan lokal menjadi penuntun etika hidup bersama. Salah satunya adalah ungkapan “Ane Naria Tona Danabelo ntekomiu mau Nipakaduata rarana…” yang menggambarkan bagaimana seseorang seharusnya memaknai sikap orang lain yang tetap berbuat baik meskipun diperlakukan tidak adil.
Makna Filosofis Ungkapan
1. Toleransi Moral yang Tinggi
Ungkapan ini menegaskan bahwa kesabaran dan kebaikan yang ditunjukkan seseorang dalam menghadapi perlakuan buruk bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral. Kesediaan untuk tetap berbuat baik adalah tanda keagungan hati.
2. Kecerdasan Emosional dan Etika Sosial
Respon baik terhadap perlakuan buruk menunjukkan kontrol diri dan kecerdasan emosional. Dalam filsafat moral, hal ini selaras dengan konsep ethics of virtue yang menekankan pembentukan karakter luhur.
3. Kritik Sosial terhadap Ego dan Kesombongan
Pesan yang tersirat adalah ajakan untuk merenung: jangan cepat menilai orang lain bodoh hanya karena mereka tidak membalas perlakuan buruk kita. Justru yang bersabar memiliki keunggulan moral dibanding yang bersikap menyakiti.
Relevansi Sosial-Budaya
Ungkapan ini relevan dalam konteks modern yang ditandai oleh konflik, persaingan, dan polarisasi sosial. Ia mengajarkan pentingnya:
Menjaga hubungan sosial harmonis meskipun ada gesekan.
Menghormati martabat orang lain, termasuk mereka yang memilih jalan damai.
Membangun karakter masyarakat beradab melalui penghargaan pada moralitas yang tinggi.
Dalam tradisi Kaili, nilai ini sejalan dengan prinsip naramba (ramah), nadeabelona (banyak kebaikan), dan maama ngata (damainya negeri).
Kesimpulan
Ungkapan “Ane Naria Tona Danabelo ntekomiu mau Nipakaduata rarana…” adalah refleksi kearifan lokal masyarakat Kaili yang mengandung pesan universal tentang moralitas, kesabaran, dan keunggulan karakter. Ungkapan ini tidak hanya relevan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga penting sebagai filosofi membangun masyarakat yang damai, beradab, dan bermartabat. Dengan demikian, ungkapan ini dapat dijadikan salah satu basis pendidikan karakter berbasis budaya lokal.(*)