DONGGALA, sebagai kota pelabuhan yang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa dan budaya, telah menumbuhkan harmoni sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di kota inilah budaya Kaili dan Tionghoa bertemu, berbaur, dan tumbuh dalam suasana rukun, damai, serta saling menghargai. Perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat dalam semangat gotong royong, kerja sama, dan kekompakan.
Harmoni Dua Budaya Kaili–Tionghoa tercermin dalam berbagai aktivitas sosial, budaya, dan kemasyarakatan yang dilaksanakan bersama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Interaksi lintas suku dan agama terjalin secara alami dalam kehidupan sehari-hari, memperlihatkan nilai toleransi dan persaudaraan yang telah mengakar kuat di Donggala.
Momentum perayaan Imlek kali ini menjadi ruang ekspresi kebudayaan yang istimewa, di mana dua budaya besar—Tionghoa dan Kaili—dipadukan dalam satu pergelaran budaya bersama.
Kegiatan ini menghadirkan penampilan Barongsai yang enerjik berdampingan dengan tarian tradisional Kaili Dadendate yang sarat makna. Atraksi Wushu dan Kontau tampil selaras dengan nuansa lokal, memperlihatkan kekayaan seni bela diri sebagai simbol ketangguhan dan disiplin.
Perhelatan budaya ini juga dimeriahkan dengan Fashion Pemilihan Koko Cici, penampilan band berbasis kearifan lokal, serta berbagai atraksi seni yang menggambarkan kreativitas generasi masa kini tanpa meninggalkan akar budaya leluhur.
Pergelaran ini menjadi wujud nyata persatuan dalam keberagaman, sekaligus menandai lahirnya ruang budaya baru yang mempertemukan tradisi dan modernitas.
Harmoni Dua Budaya Kaili–Tionghoa bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi kehidupan masyarakat Donggala yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, toleransi, Bersama dan saling menghormati. (Nosipeili, Nosipotove, Nosintuvu, Nosimpoasi).
Inilah wajah Donggala sebagai kota pelabuhan yang terbuka, inklusif, dan kaya akan warisan budaya yang hidup dan terus berkembang.(*)












