INTEGRASI nilai kearifan lokal dalam perspektif global merupakan upaya strategis sekaligus refleksi intelektual tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat tumbuh menjadi pusat unggulan yang berkarakter Islami. Di tengah dinamika global yang bergerak cepat—di mana pengetahuan, teknologi, dan budaya saling berkelindan (Terjalin erat)—Kearifan lokal hadir sebagai sumber nilai yang meneguhkan arah. Ia adalah memori kolektif masyarakat, pengetahuan yang tumbuh dari tanah sendiri, dan etika hidup yang diwariskan turun-temurun.
Dalam konteks akademik, kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan epistemologi yang memperkaya cara pandang ilmu pengetahuan. Nilai-nilai seperti Nosialapale,Nolunu (gotong royong,) musyawarah, kesantunan, spiritualitas keseharian, hingga harmoni manusia–alam, menjadi modal etik yang dapat diinternalisasikan ke dalam kurikulum, riset, tata kelola, dan budaya kampus.
Ketika prinsip-prinsip ini dikawinkan dengan nilai-nilai Islami—kejujuran, amanah, keadilan, ihsan, dan adab dalam menuntut ilmu—terciptalah ruang akademik yang bukan-bukan hanya rasional, tetapi juga penuh kasih sayang (Nosimpoasi, Nosimpotove)
Perspektif global memberikan cakrawala yang lebih luas, membuka gerbang kolaborasi ilmu, inovasi, dan kompetensi berstandar internasional. Namun globalitas tanpa jati diri mudah rapuh; karenanya kearifan lokal dan prinsip Islam menjadi jangkar moral yang menjaga kampus tetap kokoh berdiri di tengah gelombang perubahan.
Dari sinilah muncul figur lulusan yang bukan hanya kompetitif, tetapi juga berkarakter: insan berilmu yang membumikan nilai, menjunjung akhlak, dan menebarkan kemaslahatan di mana pun mereka melangkah.
Pada titik inilah, integrasi nilai kearifan lokal dan perspektif global menjelma sebagai simfoni: harmoni antara tradisi dan modernitas, antara akar budaya dan cakrawala dunia, antara intelektualitas dan spiritualitas. Simfoni inilah yang menuntun perguruan tinggi menuju predikat kampus unggul berkarakter Islami—kampus yang menyalakan kecerdasan, memuliakan manusia, dan menyinari dunia dengan nilai-nilai kebaikan yang tak lekang oleh waktu.(*)












