Guru memiliki peran strategis dalam membentuk arah masa depan bangsa. Lebih dari sekadar penyampai materi pelajaran, guru adalah penjaga nilai dan penanam idealisme bagi generasi muda.
Namun, di tengah perubahan zaman yang serba cepat, identitas nilai dan idealisme guru menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.
Perkembangan teknologi, tuntutan administrasi, serta perubahan orientasi pendidikan yang cenderung pragmatis sering kali menempatkan guru pada posisi sulit.
Dalam situasi tersebut, idealisme guru diuji. Apakah tetap berpegang pada nilai luhur pendidikan, atau larut dalam rutinitas yang mengabaikan esensi mendidik.
Identitas nilai guru tercermin dari sikap, tutur kata, dan keteladanan yang ditunjukkan dalam proses pembelajaran.
Nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan keadilan bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan melalui perilaku sehari-hari.
Inilah yang membedakan guru dari sekadar pengajar.
Idealisme guru berangkat dari keyakinan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi unik yang perlu dikembangkan secara manusiawi.
Guru idealis tidak semata mengejar capaian akademik, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter dan kepribadian siswa. Pendidikan, dalam pandangan ini, adalah proses memanusiakan manusia.
Sayangnya, realitas pendidikan saat ini kerap menempatkan guru dalam tekanan administratif yang berlebihan.
Laporan, evaluasi berbasis angka, dan tuntutan target sering menyita energi guru, sehingga ruang refleksi dan pendekatan personal terhadap siswa semakin menyempit. Kondisi ini berpotensi mengikis idealisme dan mengaburkan identitas nilai guru.
Meski demikian, tantangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk melepaskan idealisme. Justru di tengah perubahan zaman, guru dituntut untuk semakin sadar akan jati dirinya.
Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur pendidikan, guru dapat menjadi penyeimbang antara tuntutan sistem dan kebutuhan kemanusiaan peserta didik.
Menjaga identitas nilai dan idealisme guru adalah tanggung jawab bersama. Guru perlu terus meneguhkan komitmennya pada nilai-nilai pendidikan, sementara sistem dan masyarakat wajib memberikan dukungan yang memadai. Selama idealisme guru tetap hidup, pendidikan akan terus menjadi cahaya yang menuntun generasi bangsa menuju masa depan yang lebih bermakna.
Penulis adalah Wahyuni, Prodi bahasa Indonesia Angkatan 2025.












