Kritik Moral dalam Ungkapan Bijak Masyarakat Kaili tentang Kesalehan Sosial
Pendahuluan
Masyarakat Kaili memiliki tradisi lisan yang kaya akan ungkapan bijak sebagai sarana menanamkan nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Ungkapan-ungkapan ini tidak sekadar nasihat, tetapi juga berfungsi sebagai kritik sosial yang halus namun tegas terhadap perilaku yang menyimpang dari nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
Salah satu ungkapan yang sarat makna dan refleksi etis adalah: “Narempo Mbareke Pahala tapi lenipaduli sarara ridala, aga mbatiduru labintona, rakande sanggani ntaliana.”
Ungkapan ini secara bebas dapat dimaknai sebagai kritik terhadap seseorang yang sibuk menghitung pahala, namun abai terhadap keluarga dan sesama, bahkan rela memungut sisa makanan di jalan untuk dimakan bersama anak-anaknya.
Makna Leksikal dan Kontekstual
Ungkapan ini tersusun dari beberapa frasa penting yang membangun makna moral secara utuh:
Narempo mbareke pahala.
Sibuk menghitung pahala atau mengejar kesalehan ritual secara berlebihan.
Tapi lenipaduli sarara ridala
Namun tidak peduli pada keluarga dan orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Aga mbatiduru labintona
Hanya memungut sisa-sisa makanan di jalan.
Rakande sanggani ntaliana
Dimakan bersama anak-anaknya.
Secara keseluruhan, ungkapan ini menggambarkan ironi moral: seseorang merasa saleh secara spiritual, tetapi gagal menjalankan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan yang paling dasar.
Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial dalam Perspektif Kaili
Dalam pandangan hidup masyarakat Kaili, kesalehan tidak diukur semata-mata dari banyaknya ibadah atau pahala yang diklaim, melainkan dari sejauh mana seseorang bertanggung jawab terhadap keluarga, peduli terhadap sesama, dan menjaga martabat kemanusiaan.
Ungkapan ini menegaskan bahwa:
Ibadah tanpa kepedulian sosial adalah kesalehan yang timpang
Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan fondasi utama moralitas
Nilai kemanusiaan harus hadir dalam praktik keagamaan
Dengan demikian, masyarakat Kaili memandang keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Kritik Sosial yang Halus namun Tegas
Ungkapan ini juga berfungsi sebagai kritik sosial terhadap perilaku religius yang bersifat simbolik dan egoistik. Masyarakat Kaili mengingatkan bahwa mengejar pahala pribadi tanpa memperhatikan penderitaan orang-orang terdekat adalah bentuk pengabaian nilai luhur kemanusiaan.
Kritik ini disampaikan tidak dengan kecaman keras, tetapi melalui metafora kehidupan sehari-hari yang menyentuh nurani: anak-anak yang harus memakan sisa makanan akibat kelalaian orang tua yang salah memahami makna pengabdian.
Relevansi dalam Kehidupan Kontemporer
Dalam konteks kehidupan modern, ungkapan ini tetap relevan, terutama di tengah fenomena:
Formalisme beragama
Ketimpangan sosial dalam keluarga
Hilangnya empati akibat orientasi simbolik dan pencitraan
Ungkapan ini mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus berdampak nyata pada kesejahteraan keluarga dan lingkungan sosial.
Penutup
Ungkapan bijak masyarakat Kaili “Narempo mbareke pahala tapi lenipaduli sarara ridala” merupakan refleksi mendalam tentang keseimbangan antara kesalehan spiritual dan tanggung jawab sosial. Ia mengingatkan bahwa ibadah dan pahala tidak boleh menjauhkan manusia dari nilai kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap keluarga.
Sebagai warisan kearifan lokal, ungkapan ini layak dijadikan pijakan dalam pendidikan karakter, pembinaan keluarga, dan pembangunan moral masyarakat yang berkeadaban.(*)












