Nasib Guru Honorer Sulbar di Persimpangan Database BKN

Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum harapan bagi ribuan guru honorer di Sulawesi Barat.

Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan penyelesaian tenaga guru dalam database Badan Kepegawaian Negara (BKN) membuat impian mengenakan seragam ASN melalui skema PPPK terasa semakin dekat.

Namun, di balik proses verifikasi data dan angka-angka administratif, tersimpan beragam opini serta kecemasan yang terus menghantui ruang-ruang guru hingga ke pelosok Sulbar.

Bagi guru honorer yang namanya telah “terkunci” dalam database BKN, kebijakan ini bak oase di tengah keterbatasan.

Di wilayah pegunungan Mamasa hingga pesisir Mamuju Tengah, banyak guru telah mengabdi lebih dari satu dekade dengan upah minim.

Kini, mereka melihat kebijakan ini sebagai bentuk keadilan dan pengakuan atas pengabdian panjang yang selama ini terabaikan.

Namun demikian, isu transparansi tetap menjadi catatan kritis.

Di berbagai forum dan grup diskusi media sosial lokal, opini publik terbelah. Keraguan muncul terkait akurasi data, apakah seluruh nama yang tercantum benar-benar aktif mengajar di ruang kelas, atau justru muncul nama-nama yang selama ini tidak pernah merasakan beratnya mengabdi di daerah terpencil.

“Kami hanya ingin keadilan yang nyata. Jangan sampai yang sudah berdarah-darah di pelosok kalah oleh mereka yang hanya unggul secara administrasi,” tulis seorang guru dalam komentar yang viral di grup informasi guru Sulbar.

Di sisi lain, kekhawatiran mendalam dirasakan oleh guru honorer muda yang tidak masuk dalam database BKN.

Muncul opini bahwa kebijakan yang terlalu berfokus pada data lama berpotensi memicu krisis regenerasi guru.

Jika tenaga non-database tersingkir, banyak sekolah di daerah terpencil terancam kekurangan pendidik, khususnya guru muda yang adaptif terhadap teknologi dan metode pembelajaran baru.

Pada akhirnya, pendidikan di Sulawesi Barat tidak hanya dibangun melalui sistem dan basis data, melainkan oleh dedikasi nyata para guru yang setiap hari berdiri di depan kelas, mendidik, dan membentuk masa depan generasi daerah.

Penulis adalah Rasti, Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia STKIP Tomakaka Twikrama Pasangkayu 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Ini