DALAM tradisi lisan masyarakat Kaili, Tevai Ntotua menempati posisi penting sebagai pesan moral yang diwariskan lintas generasi. Ia bukan sekadar nasihat orang tua kepada anak cucunya, tetapi menjadi pedoman hidup dalam membangun relasi sosial yang beradab, manusiawi, dan bermartabat. Salah satu ungkapan Tevai Ntotua yang sarat makna adalah: “Ane movega domo rakita nasugi atau napakasi. Kita ampena kanamoada, nosimpoasi, nosipotove.”
Yang dimaknai sebagai:
“Jika berteman, jangan melihat apakah ia kaya atau miskin.
Perhatikanlah tingkah lakunya: berakhlak baik, saling menghargai, dan saling mengasihi (menjaga hati).”
Persahabatan Melampaui Status Sosial
Ungkapan “ane movega domo rakita nasugi atau napakasi” menegaskan satu prinsip luhur: nilai manusia tidak diukur dari harta. Orang tua Kaili sejak dahulu telah menanamkan kesadaran bahwa kekayaan dan kemiskinan bersifat sementara, sedangkan budi pekerti adalah cerminan jati diri sejati.
Pesan ini menjadi kritik halus terhadap kecenderungan manusia yang sering menilai seseorang dari penampilan luar, jabatan, atau materi. Dalam pandangan Kaili, persahabatan yang sejati lahir dari ketulusan, bukan kepentingan.
Etika Pergaulan: Ampena Kanamoada
Frasa “kita ampena kanamoada” mengajak setiap individu untuk memperhatikan perilaku dan perangai.
Orang yang pantas dijadikan sahabat adalah mereka yang menjaga sikap, tutur kata, dan perbuatan. Dalam kehidupan sosial masyarakat Kaili, etika ini menjadi pondasi terciptanya harmoni dan rasa aman di tengah komunitas.
Nosimpoasi dan Nosipotove: Inti Kemanusiaan
Nilai nosimpoasi (saling menghargai) dan nosipotove (saling mengasihi, menjaga perasaan) merupakan inti dari Tevai Ntotua.
Dua nilai ini menempatkan manusia sebagai makhluk bermartabat yang harus diperlakukan dengan hormat, tanpa memandang latar belakang apa pun.
Nosipotove secara khusus menekankan kepekaan hati—kemampuan untuk tidak menyakiti, tidak merendahkan, dan tidak melukai sesama, baik lewat kata maupun tindakan. Inilah bentuk kecerdasan emosional dan sosial yang telah lama hidup dalam kearifan lokal Kaili, jauh sebelum istilah-istilah modern diperkenalkan.
Relevansi di Tengah Zaman Modern
Di era modern yang sarat kompetisi, individualisme, dan stratifikasi sosial, pesan Tevai Ntotua justru semakin relevan.
Ia menjadi pengingat bahwa persahabatan dan relasi sosial yang sehat dibangun di atas nilai moral, bukan status sosial.
Bagi generasi muda, Tevai Ntotua mengajarkan bahwa memilih lingkungan pergaulan bukan soal popularitas atau keuntungan, melainkan soal karakter, empati, dan kemanusiaan.
Penutup
Tevai Ntotua adalah warisan etis masyarakat Kaili yang mengajarkan kita untuk memanusiakan manusia. Melalui pesan sederhana namun mendalam—tentang tidak membeda-bedakan, menjaga sikap, saling menghargai, dan mengasihi—orang tua Kaili telah meletakkan fondasi peradaban yang beradab dan berkeadilan.
Di sanalah letak kekayaan sejati budaya Kaili: bukan pada harta, tetapi pada nilai hidup yang menuntun manusia untuk hidup bersama secara bermakna.(*)













