(Pendidikan tanpa budi pekerti hanya melahirkan anak berotak pintar, tetapi tidak searah hati dan tingkah lakunya)
Pendahuluan
Masyarakat Kaili memiliki tradisi lisan yang kaya, penuh ungkapan bijak belo rapovia Belo rakava, (Kebaikan diperbuat, kebaikan pula yang didapat), yang tidak hanya menjadi petuah moral, tetapi juga kerangka berpikir untuk membangun tatanan sosial yang harmonis. Salah satu ungkapan penting yang sarat makna dalam pendidikan dan pembentukan karakter adalah:
“Posikola Ledo Mbadekei Inggubelo Moada, Aga Nompakajadi Ngana Nounto Natau Tapi Lenaliangu Rarana Nteingguna.”
Secara harfiah, ungkapan ini menegaskan bahwa pendidikan yang tidak dibarengi budi pekerti, etika, dan pengendalian diri hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam moralitas dan laku kehidupannya.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa masyarakat Kaili sejak lama telah memahami urgensi pendidikan karakter (character building) sebagai pondasi utama membentuk manusia yang utuh.
Makna Filosofis Ungkapan
1. “Posikola ledo mbadekei inggubelo moada”
Bagian awal ini menegur sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada pengetahuan: membaca, menulis, menghitung, serta keahlian teknis, tetapi mengabaikan nilai budi pekerti seperti:
kesopanan (Noada),
rasa hormat (Nabaraka),
kejujuran (Lenodava),
keikhlasan (nosimpoasi),
tanggung jawab (Narisinontunroka urusa)
dan rasa malu yang positif (Lenepakaeya).
Bagi masyarakat Kaili, pengetahuan tanpa moral adalah bangunan tinggi tanpa pondasi—mudah t.umbang, dan dapat membawa mudarat bagi diri sendiri maupun komunitasnya..
2. “Aga nompakajadi ngana nounto natau”
Frasa ini menggambarkan keberhasilan pendidikan secara intelektual.
Seorang anak mungkin:
cerdas,
cepat memahami pelajaran,
unggul dalam kompetisi,
atau berprestasi di sekolah dan pekerjaan.
Masyarakat Kaili menyebutnya nounto natau (otaknya tajam dan berkembang). Namun, keberhasilan ini tidak otomatis mencerminkan kedalaman moral.
3. “Tapi lenaliangu rȧrana nteingguna”. ini merupakan inti kritik moral:
Anak itu memang berotak pintar, tetapi hati dan perilakunya tidak serasi—tidak bijak dalam tindakan, kurang menghargai orang lain, dan tidak memiliki kendali emosional.
Lenaliangu berarti “tidak selaras,”
Rarana nteingguna berarti “hati dan tingkahnya tidak berjalan pada jalan kebaikan.”
Inilah bentuk kecerdasan tanpa kebajikan yang dikhawatirkan oleh leluhur Kaili.
Konteks Budaya dalam Masyarakat Kaili
Dalam tatanan sosial masyarakat Kaili, pendidikan tradisional tidak hanya berlangsung di sekolah formal, tetapi dibentuk melalui:
1. Rumah (Banua) sebagai ruang utama pewarisan nilai.Melalui waktu Makan bersama dengan Pake Baki dan Sholat bersama
2. Adat yang mengatur hubungan antarmanusia.
3. Ritual budaya, seperti libu, Ada mpeosa , dan Ada mpoboti yang mengajarkan etika kolektif.
4. Ungkapan-ungkapan bijak, sebagai instrumen pendidikan karakter yang diwariskan secara turun-temurun
Sebagaimana kearifan lokal lainnya, ungkapan ini muncul dari kesadaran bahwa kemajuan masyarakat tidak ditentukan oleh kecerdasan semata, tetapi oleh keserasian antara ilmu dan moralitas.
Nilai-Nilai Moral yang Terkandung
1. Keseimbangan Ilmu dan Akhlak
Ungkapan ini menegaskan bahwa ilmu tanpa moral dapat menyesatkan.
Kaili menempatkan keseimbangan sebagai prinsip—navigasi diri antara pikiran dan hati.
2. Pentingnya Keteladanan Orang Tua (Kana Totua Nipangala jarita Geira noada najadi panuntuta)
Dalam budaya Kaili, pendidikan karakter dimulai dari rumah.
Orang tua menjadi guru pertama yang membentuk budi pekerti anak.
3. Tanggung Jawab Sosial
Setiap individu harus memiliki rasa malu (Nisani mbana anunepakaeya) untuk menghindari perbuatan tercela, sebuah konsep moral yang sangat kuat dalam masyarakat Kaili.
4. Kesadaran Diri (Karo nombarasai )
Penutup
Ungkapan Masyarakat Kaili Posikola Ledo Mbadekei Inggubelo Moada Adalah warisan intelektual yg mengandung kritik tajam terhadap pendidikan yg hanya menekankan kecerdaskan intelektual tanpa moralitas Analisis filosofis dan teoritis menunjukkan bahwa Kearifan lokal ini sangat relevan dengan teori teori pendidikan dunia, yg semuanya menekankan bahwa pendidikan sejati harus mengembangkan pikiran,hati, dan tindakan secara seimbang.
Masyarakat Kaili melalui Ungkapan ini mengirimkan pesan universal; Pendidikan tanpa Budi pekerti bukan hanya tidak cukup, tetapi berbahaya karena itu, pembentukan karakter harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pendidikan, baik disekolah, keluarga, maupun Komunitas.(*)













