BUKIT Salena merupakan kawasan perbukitan strategis di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang memiliki karakter geografis dan meteorologis ideal untuk pengembangan olahraga dirgantara, khususnya paralayang.
Ketinggian bukit, kontur landai untuk lepas landas, serta pola angin yang relatif stabil sepanjang tahun menjadikan Bukit Salena sebagai salah satu lokasi unggulan bagi atlet paralayang, baik pada level pembinaan maupun kompetisi. Dari sudut pandang visual, panorama Teluk Palu, bentang kota, dan pegunungan sekitarnya menghadirkan pengalaman terbang yang tidak hanya menantang secara teknis, tetapi juga bernilai estetika tinggi.
Lebih dari sekadar ruang olahraga, Bukit Salena memiliki makna sosial dan budaya yang kuat bagi masyarakat lokal. Dalam perspektif kearifan lokal masyarakat Kaili, alam dipahami sebagai ruang hidup yang harus dijaga keseimbangannya. Prinsip hidup yang menekankan harmoni antara manusia dan alam menjadi landasan dalam pemanfaatan kawasan Bukit Salena.
Aktivitas olahraga dirgantara dipandang bukan sebagai bentuk penaklukan alam, melainkan sebagai ekspresi penghormatan terhadap alam yang memberi ruang, angin, dan kehidupan.
Pengembangan Bukit Salena sebagai ikon olahraga dirgantara berbasis kearifan lokal tercermin melalui keterlibatan aktif masyarakat setempat dalam pengelolaan kawasan. Masyarakat berperan sebagai penjaga lingkungan, pemandu lokal, pengelola akses kawasan, serta pelaku ekonomi kreatif yang mendukung kegiatan paralayang.
Pola ini sejalan dengan nilai kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Kaili, di mana kemajuan kawasan dicapai melalui partisipasi kolektif, bukan eksploitasi sepihak.
Dari aspek pariwisata olahraga, Bukit Salena memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi sport tourism berkelanjutan. Event paralayang, pelatihan atlet, hingga wisata tandem paralayang dapat dikolaborasikan dengan promosi budaya lokal, seperti seni tradisi, kuliner khas, dan narasi adat setempat.
Integrasi ini memperkuat posisi Bukit Salena tidak hanya sebagai arena olahraga dirgantara, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya dan identitas daerah Sulawesi Tengah.
Dengan mengedepankan kearifan lokal sebagai fondasi pengembangan, Bukit Salena berpeluang menjadi ikon olahraga dirgantara yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berakar kuat pada nilai budaya lokal.
Model ini menunjukkan bahwa kemajuan olahraga dan pariwisata dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam serta penguatan jati diri masyarakat Sulawesi Tengah.(*)













