MASYARAKAT Kaili sejak dahulu dikenal memiliki ungkapan-ungkapan sarat makna yang lahir dari pengalaman hidup, adat, dan relasi sosial yang dijaga dengan penuh etika.
Ungkapan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pedoman moral yang mengatur hubungan antara manusia—terutama antara guru dan murid, dua unsur penting dalam pembentukan peradaban.
“Ritampa Nulauroguru Naria Bulava” (Di Ujung Rotan guru Ada Emas). Ungkapan ini mengandung filosofi mendalam tentang pendidikan dan disiplin. Rotan dalam konteks budaya Kaili bukan simbol kekerasan, melainkan simbol ketegasan, tanggung jawab, dan kasih sayang seorang guru.
Sementara emas melambangkan nilai, ilmu, dan masa depan cerah yang akan diperoleh murid jika dididik dengan benar.
Namun realitas hari ini menunjukkan pergeseran makna. Ketegasan guru sering disalahartikan, bahkan guru kini takut bertindak karena ancaman dilaporkan.
Padahal dalam filosofi Kaili, ketegasan guru adalah bentuk cinta—kasih yang mendidik, bukan menyakiti. Ketika rotan nilai dicabut, maka emas pendidikan pun perlahan menghilang.
“Berimba Murid Domo Nipeilina Guru” (Bagaimana Murid Tidak Menghargai dan Peduli kepada Guru). Ungkapan ini adalah kritik sosial yang tajam. Ia menggambarkan kondisi ketika murid kehilangan rasa hormat, etika, dan kepedulian terhadap guru. Dalam budaya Kaili, guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi orang tua kedua, penuntun akal dan akhlak.
Hilangnya rasa hormat kepada guru bukan semata kesalahan murid, tetapi cerminan retaknya sistem nilai:
Keluarga melemahkan pendidikan karakter
Lingkungan membenarkan perilaku tidak beretika
Otoritas guru semakin terpinggirkan
Ketika murid tak lagi peduli pada guru, maka proses pendidikan berubah menjadi rutinitas kosong tanpa ruh.
“Ane Guru Nipalambana Murid, Nuapa Nipoviana Risikola” (Jika Guru Membiarkan Murid, Apa Pun Bisa Terjadi di Sekolah). Ungkapan ini adalah peringatan keras. Dalam pandangan orang Kaili, guru yang terlalu membiarkan—tanpa aturan, tanpa batas, tanpa ketegasan—akan melahirkan kekacauan nilai.
Sekolah kehilangan fungsi sebagai ruang pembentukan karakter, dan murid tumbuh tanpa arah. Pembiaran bukanlah kebebasan. Dalam filosofi Kaili, kebebasan harus dibingkai oleh tata nilai, adat, dan tanggung jawab.
Guru yang takut bertindak akan menciptakan generasi yang tidak siap menghadapi kehidupan sosial.
Refleksi untuk Zaman Sekarang
Tiga ungkapan ini bila dibaca secara utuh membentuk satu pesan besar:
Pendidikan yang berhasil membutuhkan keseimbangan antara kasih, ketegasan, dan penghormatan.
Masyarakat Kaili mengajarkan bahwa: Guru harus dihormati dan dilindungi martabatnya. Murid harus dibimbing, bukan dimanjakan
Ketegasan adalah bentuk cinta jangka panjang
Menghidupkan kembali ungkapan-ungkapan ini berarti mengembalikan ruh pendidikan, khususnya di Sulawesi Tengah, agar selaras dengan kearifan lokal dan tantangan zaman modern.
Penutup
Ungkapan masyarakat Kaili bukan milik masa lalu, melainkan cermin untuk hari ini dan bekal untuk masa depan.
Selama emas nilai masih diyakini ada di ujung ketegasan guru, maka pendidikan akan tetap menjadi jalan mulia membangun manusia yang beradab.(*)













