Naik Kuda Pattuduq, Muh Dasri Nyalakan Detak Budaya Mandar di Baras ‎

PASANGKAYU, Manakarra Pos – Saat hari menjelang siang, suasana di bawah langit Desa Motu, Kecamatan Baras, terasa berbeda dari biasanya.

Di sana terik matahari menusuk kulit, namun panas itu tak mampu menyurutkan semangat ratusan warga yang berkumpul untuk merawat kebudayaan dan mempererat ikatan persaudaraan Mandar.

‎Festival dan Gathering bertema “Eksplore Kemilau Seni Sipamandaq” yang digelar Kerukunan Keluarga Besar Mandar ini menjadi penanda awal tahun di Kabupaten Pasangkayu.

Sekitar 700 orang memadati lokasi kegiatan di Desa Motu, Minggu (4/1/2024).

Dari luar kita melihat, ini bukan sekadar perayaan, melainkan pertemuan besar lintas generasi.

‎Acara tersebut dihadiri Asisten Bupati Pasangkayu Suhardi, Camat Baras, serta sejumlah kepala desa se-Kecamatan Baras.

Selain, pejabat pemerintah, sejumlah kerukunan keluarga daerah lain juga banyak hadir.

‎Anggota DPRD Kabupaten Pasangkayu, Muh Dasri, yang juga dikenal sebagai tokoh Mandar, hadir memberi sambutan.

Dalam pesannya,  Muh Dasri menegaskan bahwa kerukunan merupakan pondasi utama kehidupan bermasyarakat.

‎Menurutnya, kerukunan berperan menciptakan kedamaian, mempererat persatuan dan kesatuan, menumbuhkan rasa saling menghormati dan toleransi, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, memperlancar kerja sama, serta mendorong terwujudnya kesejahteraan bersama.

‎“Kerukunan memudahkan kita bergotong royong dan bergerak bersama demi kemajuan daerah,” ujar Dasri.

‎Nilai-nilai tersebut tercermin dalam pepatah Mandar  “Sipamandaq, sipakalabbi’, sipakainga’,” yang bermakna saling menguatkan, saling menghormati, dan saling mengingatkan.

Pepatah ini menjadi ruh dari seluruh rangkaian acara.

‎Suasana kian hidup ketika sejumlah perempuan Mandar tampil menunggang kuda dalam tradisi messawe disayyang pattufuq.

Kuda-kuda terlatih menari mengikuti alunan rebana tradisional Mandar, memukau ratusan pasang mata yang menyaksikan.

‎Tak hanya menyaksikan, Muh Dasri yang mengenakan pakaian putih turut merasakan sensasi menunggang kuda pattuduq.

Momen itu menjadi bukti keterlibatan langsung seorang wakil rakyat dalam denyut budaya yang hidup di tengah masyarakat.

‎Dasri sendiri mengapresiasi panitia dan masyarakat Mandar yang terus menjaga dan menghidupkan tradisi di tengah arus perubahan zaman.

Menurutnya, selama kebudayaan dirawat bersama, jati diri daerah akan tetap kokoh.

“Dan kegiatan ini, semoga terus dirawat setiap tahunya sebagai ajang promosi buat daerah kita,” jelasnya via telepon.

‎Di awal tahun, di bawah terik matahari Desa Motu, seni dan nilai leluhur Mandar lahir.

Dari kebersamaan itu, harapan tentang persatuan, identitas, dan masa depan yang harmonis kembali diteguhkan.

‎Bagi warga, kehadiran wakil rakyat tersebut menghadirkan rasa dihargai.

Masyarakat menganggap bahwa tradisi mereka tidak ditinggalkan oleh zaman, dan tidak dilupakan oleh mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan.

‎“Kalau pejabat mau datang, terus mau duduk sama-sama dengan kami. Itu sudah bikin senang sebagai masyarakat biasa,” ujar salah seorang warga.

Penulis : Egi Sugianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *